Majelis Ayah: Ayahku Pahlawanku

Bismillah,
AQL, 24 Jan 15

-Ust. Bachtiar Nasir-

Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, pahlawan pejuang pertama bagi anak laki-lakinya.

Umat muslim maju dari keluarga yang kuat, yang ayah ibunya baik.

Eropa kini menghadapi kehancuran struktur keluarga.
Kemudian di negeri Indonesia ini, persiapan menjadi ayah jarang disiapkan kaum muslimin.

Kebahagiaan terbesar ayah adalah memiliki anak yang bisa bahu membahu membantu pekerjaan ayahnya dalam berdakwah.

Membawa kendaraan saja harus ada kualifikasi sim, sebuah akreditasi.
Maka sudah seharusnya seorang imam rumah tangga dipersiapkan lebih matang, bukan asal pimpin.

Ayah adalah pahlawan. ibu memberikan zona aman.
Ayah memberikan tantangan yang terukur untuk mengeluarkan potensi anaknya.

Fenomena kebanci-bancian sering muncul di kalangan anak-anak indonesia karena dominan hanya sosok ibu yg mengasuh.
Anak laki-laki menjadi lebih cerewet dan sering komplain (layaknya wanita), bukannya mendobrak situasi dan menaklukkan tantangan.

Jarang ada peran ayah!!!

Ayah menjadi antara ada dan tiada.
Akhirnya banyak anak laki-laki yang menjadi gay.

Kemunduran pertama adalah bila anak sudah benci ayahnya. Anak-anak jadi hafal kata-kata ayahnya yg ringkas dan hanya sedikit, seperti contohnya:

“dah sholat?”
“ada pr atau ngga?”
“ibumu dimana?”

Belum lagi kekerasan ayah pada anak.
Kekasaran membuat potensi anak menjadi impoten, anak jadi tidak produktif dan inovatif.

Kekasaran ayah pada istrinya, apalagi bila ditambah perselingkuhan ayah di depan istrinya dan diketahui anak perempuannya. Hal ini akan membuat anak perempuannya benci kepada laki-laki.

Perempuan bisa jadi mempermainkan laki-laki dan/atau memurah-murahkan diri.
Maka, seorang ayah yang dikaruniai anak perempuan kemudian ia didik menjadi baik akan mendapatkan jalan ke syurga.

Ust Bachtiar Nasir banyak menghadapi anak-anak muda/krucil-krucil yang meminta ia menjadi ayahnya.
Lewat FB, twitter, mereka memanggil dengan sebutan “Abi”, sampai menghubungi nomor pribadi.
Mereka bagai kehilangan sosok ayahnya, minta pengayoman.
Ini sudah banyak sekali terjadi.

Tersimpulkanlah, anak-anak indonesia banyak yang lapar ayah.

Di kampus, anak muda juga destruktif karena kurang sentuhan dan contoh dari ayahnya.
Akhirnya terjadilah demo yg merusak, bakar-bakar, aktivitas buruk di luar kampus, dsb.
Mereka ngga dididik ortunya untuk menyalurkan nyali dan adrenalin yang berlebih ke tempat yang tepat dan bermanfaat. Olahraga misalnya.

Ayah jangan jadi penjajah, jadilah pendidik.
Jangan bentuk anak sesuai keinginan, tapi didiklah ia sampai Allah menjadikannya siapa.
Bagai anak panah, bidik ke arah kebaikan kemudian lepaskan.
Biarkan Allah menjadikannya sesuatu.
Pendidik, bukan penjajah.

KPK membuat riset tentang kejujuran dikeluarga disuatu daerah (Cirebon).
Hasilnya adalah, sebagian besar anak-anak tak percaya bahwa orang tuanya jujur.
Jadi sejak awal, mereka sudah tak melihat di dunia terdekatnya sebuah contoh kejujuran.

Anak-anak sekarang cepat dewasa (syahwatnya), tapi akal sehat dan budi pekertinya lambat dewasa.

Kurikulum yang harus disampaikan pada anak:

1. Mengenalkan anak pada Allah dan RasulNya

2. Mengikatkan anak pada hukum Allah dan RasulNya. Ajari fiqih dan syariah.

Kini, anak-anak hanya dibesarkan fisiknya.
Tapi fikrahnya (pemikirannya) dan hatinya dibawa lari dengan keagnostikan sains, sekularisme, liberalisme tanpa terperhatikan ortunya.
Badan membesar, tapi pikiran dan hati entah kemana.

Pendidikan seksual dari sisi agama harus dikuasi ayah.

Kerusakan kejahatan seksual di indonesia sudah sangat parah. Pelakunya dari usia 100 tahun sampai 6 tahun. Bahkan korbannya dmulai dari usia 18 bulan.

-Ust Bendri Jaisyurrahman-

Maka, kenalkan anak tentang tubuhnya, auratnya, dan bagaimana seharusnya membawa tubuh.

Ajari tentang tipe-tipe sentuhan (sentuhan sayang, meragukan, dan berbahaya).
Ajari pula tipe-tipe hubungan (saudara, teman, saudara, orang asing, dsb).

Jadilah ayah yang berselera tinggi: selera para anbiya, shiddiqin, dan orang-orang shalih lainnya.

Ayah harus punya visi agar anak bisa sebaik orang-orang shailh tersebut.
Jangan malah merendahkan visi jadi “sekedar”, “yang penting”, dsb.

Pembahasan Albaqarah:133:
Ayah yg membanggakan, di akhir hayatnya memastikan anak-anaknya menjunjung tauhid, menuhankan Allah yg esa sampai generasi-generasi selanjutnya.
Kata yg dipakai Allah dalam ayat tsb adalah “Ilahaka” (Tuhanmu, wahai ayah).
Anak-anak mengakui akan menyembah Tuhan ayahnya sepeninggalnya.
Ini menunjukkan pendidikan sang ayah tentang ketauhidan, keimanan yg jelas dari didikan sang ayah.

Allahu a’lam.
Semoga bermanfaat

Advertisements

One thought on “Majelis Ayah: Ayahku Pahlawanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s