Majelis Ayah: Mengatasi Freesex dan Pornografi dengan Cinta

Bismillah,
AQL, 25 Feb 2015

Diawali dengan tilawah surah Al Imran: 42-48

Ada sebuah ungkapan gini, “Jika ingin melemahkan suatu bangsa, maka lemahkan pemahaman ayahnya terhadap anak mereka.”

Salah satu usaha orang-orang Yahudi untuk melemahkan generasi Islam, yaitu dengan melarang penggunaan kata ‘Jangan’ kepada anak (terutama yang masih dalam masa perkembangan). Padahal di Al Quran banyak dipakai kata ‘jangan’.

Janganlah kamu menyekutukan Alloh!

Janganlah kamu mendekati zina!

– Ust Bendri –

Sebagian anak-anak yang kena virus pornografi, sebenarnya cuma ikut-ikutan.

Bisa saja mereka dari keluarga baik-baik, tapi karena kalo ngga ikut (nonton) dianggap ga gaul atau ga nge-trend, maka mereka akhirnya coba-coba hingga akhirnya ketagihan.

Seperti narkoba, hanya saja tidak ada tanda-tanda yang kelihatan secara fisik bagi penyandunya.

Rasul sudah memprediksikan akan adanya zaman dimana generasinya cuma ikut-ikutan.

75% anak SD sudah kena pornografi.

Segmen utama pornografi adalah anak-anak terutama SD dan SMP karena medianya adalah media anak-anak.
Contoh:
– komik
– games
– kartun
Kategorinya soft pornografi karena pelakunya masih berpakaian mungkin (minim), tapi bisa mengarah ke pornografi yang lebih parah lagi.

Oleh karena alasan ikut-ikutan itu tadi, maka dibutuhkan seorang ayah sebagai inspirasi anaknya.

Anak harus punya kemampuan untuk memutuskan.

Jadi ketika syahwat naik, maka sang anak akan ingat sosok ayahnya yang sudah memberi anak tsb peringatan.

Anak butuh sosok ayah yang inspiratif.

– Ust Bachtiar Nasir –

Rasul bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin..”, maka ayah yang inspiratif adalah ayah yang bertanggung jawab sebagai pemimpin. Sehingga hal utama yg harus dibangun adalah mentalitas kepemimpinan ayah thd keluarganya.

Al Baqarah 2:151 memberikan 5 poin untuk menjadi ayah inspiratif:

1. Membacakan ayat-ayat Al Quran.

Pokoknya dibacakan aja ke anak. Kalo bisa bacakan ayat-ayat yang sesuai kondisi anak saat itu.

2. Mensucikan jiwa

Buat agar anak merasa diawasi Alloh. Menyiapkan anak agar siap menerima ajaran Al Quran.

3. Mengajarkan Al Quran

Memandu anak dengan Al Quran dalam setiap aktifitasnya. Al Quran sebagai manual dalam kehidupan.

4. Mengajarkan hukum-hukum dalam Al Quran & Sunnah

Buat anak-anak merasa terikat dalam syariat. Ikat mereka dengan hukum Alloh, sunnah Rasul, dan fatwa Ulama dan Fiqh.

Susunan syariat:
1) Taharah (wudhu, bersuci, mandi)
2) Ibadah (solat, dzikir, berdoa)
3) Muamalah (hubungan sesama manusia)

Jadi saat masa coba-coba itu tiba, anak-anak sudah bukan lagi bilang
“Kata papa itu ga boleh”

Tapi menjadi
“Kata Alloh, itu ga boleh”

5. Mengajarkan apa-apa yg belum diketahui.

Ceritakan mukjizat Al Quran yg paling terkini, yang baru ditemukan kebenarannya oleh para ilmuwan. Hal ini akan membuat anak lebih semangat belajar Al Quran.

– Teori Imam Al Ghazali –

Anak-anak adalah amanah untuk orang tua.

Jiwa anak-anak adalah permata yang kosong dari ukiran & gambar dan siap menerima (isi/ajaran).

Tapi jiwa anak cenderung kepada apa yang dia sukai.

Kalau anak dibiasakan dengan kebaikan, maka dia akan tumbuh dengan kebaikan.

Maka dia akan bahagia.

Siapa yang akan bahagia?
Orang tuanya di dunia dan akhirat.

Sesi diskusi
—————-

Ayah harus punya visi misi yang jelas ketika harus menitipkan anak.
Istilah menitipkan anak sebenarnya kurang tepat, coba ganti dengan istilah “minta diajarkan”.

Abdul Aziz bin Marwan, ayah Umar bin Abdul Aziz ketika harus ke Mesir menjalankan tugasnya sebagai gubernur, beliau mencarikan ustadz untuk menjaga sekaligus mengajarkan Umar.

Visi Misinya jelas, untuk membuat Umar berilmu dan disiplin.

Ada 2 pesan yang dititipkan kepada pengasuh/penjaga Umar:
1) Ajarkan Umar bahasa Arab yang baik
2) Umar tidak boleh terlambat solat

Abdul Aziz hampir setiap hari mengirim surat kepada sang ustadz untuk menanyakan perkembangan anaknya.
Akhirnya jadilah Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah sekaliber Abu Bakr, Umar bin Khattab, Ustman, dan Ali.

Ketika seorang ayah ingin anaknya “minta diajarkan” dipesantren. Jangan cuma dilepas begitu aja.
Ayah harus survey dan sering cari info perkembangan anaknya dipesantren ke ustadz-ustadznya. Jangan sampai anaknya ga betah atau bergaul dengan teman-teman yang salah.

Jangan menjadi Ayah demokratis!
Anak butuh bimbingan dalam memilih.
Jika dikasih kebebasan sebebas-bebasnya maka dia akan sulit dalam mengambil keputusan.

Jangan pula menjadi ayah destruktif!
Melakukan pembenaran ke anak semisal:
“Ini untuk 17 tahun keatas. Ayah boleh, tapi kamu ga boleh!”

Seksualitas dalam Islam:
1. Benar secara syariat (nikah)
2. Sehat secara medis
3. Lurus secara fitrah (cowo & cewe, bukan LGBT)

Jangan jadikan pendidikan seks tabu.
Jelaskan semampunya tentang seks ke anak (tentu dengan melihat sikon juga).
Jangan malah kita alihkan perhatian atau lebih parah lagi dibohongin setiap anaknya nanya tentang seks.

Contoh salah:
“Papa, kondom itu apa sih?”
Kata papanya, “Kondom itu obat sakit kepala”
Kalo tiba-tiba tuh anak disuruh beli obat sakit kepala diwarung gimana?

Kapan kita bisa mulai ngasih tau tentang seks?

Segera ketika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri.

Ajari anak untuk menjaga kesucian dirinya, bukan hanya menjaga bagian kemaluannya saja.
Karena zina bisa datang dari bagian tubuh manapun.

Allahu A’lam.
Semoga Bermanfaat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s