Irene Handono: Mengapa Harus Kartini?

Bismillah,

Menulis ulang postingan dari ustadzah Irene Handono yang beredar luas di Facebook. Semoga bisa lebih mencerahkan dan jadi perbandingan.

Berikut tulisannya:

Mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia? Ada dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh. Kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, dua wanita ini tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf.

Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Itulah dua wanita hebat yang hidup jauh sebelum Kartini lahir. Maka penggambaran situasi sosial masyarakat di Nusantara yang sangat menindas kaum perempuan dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah yang kita terima, adalah penggambaran yang sama sekali tidak berdasar.

Selanjutnya, Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Pertanyaan yang harus timbul adalah: MENGAPA HARUS KARTINI?

Bangsa Indonesia harus bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu?

Apakah karena Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda?? Ia tidak pernah menyerah ataupun berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Rohana Kudus, meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, ia juga memiliki visi keislaman yang tegas.

Modern tidak berarti wanita bisa sama segala-galanya dengan laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Demikian juga laki-laki dengan kemampuan dan kewajibannya.

“Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”, begitu kata Rohana Kudus. Sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Sumber: https://m.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10153092753312638&id=169101077637&substory_index=0

Advertisements

16 thoughts on “Irene Handono: Mengapa Harus Kartini?

  1. siapapun, tertulis atau tidak dalam buku sejarah, semoga kita (khususnya kaum perempuan) bisa mengmbil inspirasi positif dari mereka, jangan gelapkan yang sudah terang…

    Like

    1. Setuju, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Kartini.

      Tulisan Irene Handono ini bisa sebagai pembanding bagaimana sejarah bisa ditulis hanya dengan subjektifitas penguasa (penjajah pada saat itu).

      Liked by 1 person

  2. Nice info gan?

    Dan sayangnya, sejarah hidup Kartini juga tidak diulas lebih dalam. Hanya penggalan2 saja.
    Apakah sejarah yg ditulis penguasa tdk begitu suka mengenai :
    1. Kehidupan “nyantri” Kartini yg berguru pd Kyai Sholeh Darat
    2. Asal usul/ide dari tulisan Beliau (Habis Gelap terbitlah Terang)
    3. Kebiasaan “tirakat” Kartini
    Dan lain sebagainya yg berhubungan dg kehidupan muslimah seorang Kartini.

    BTW, saya juga menyayangkan kenapa hanya kartini yg sangat terkenal dlm dunia “emansipasi”. Padahal bnyk wanita2 hebat di negeri ini.

    Semoga perempuan2 Indonesia masa kini mjd perempuan2 hebat. Bukan hanya dlm tindakan fisiknya saja, tapi juga batinnya.
    🙂

    Like

  3. “Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat,”

    Sepengetahuan saya, pada zaman itu untuk seorang wanita dapat menulis saja sudah sangat hebat. Apalagi beliau menulis untuk menyampaikan hal yang didambakan penguasa pada zaman itu (kaum eropa) yaitu tentang “hak asasi” manusia. Yang pada zamanya belum ada pendidikan formal tentang hal itu.

    Saya turut setuju dalam pendapat anda jika dibandingkan yang lain Kartini tidak melakukan suatu tindakan selain menulis. Tetapi sebagai penulis hendaknya anda tahu kapabilitas sebuah tulisan.

    Salam

    Like

  4. Benar Bu Irena.
    Dari dulu saya juga berpikiran seperti Ibu.Banyak pejuang wanita di Indonesia…tapi mengapa harus Kartini ?…Mengapa harus Hari Kartini ? Cukupkah hanya seorang Kartini mewakili seluruh pejuang wanita kita ?
    Menurut saya kalo untuk mengenang dan menjunjung tinggi emansipasi wanita sebaiknya Hari Kartini diperluas menjadi hari emansipasi wanita atau hari perjuangan wanita.Tokoh yang dikenang dan kita jadikan tauladan di hari tsb adalah seluruh pahlawan wanita Indonesia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s