Kesungguhan Cinta

Bismillah,

Bagi seorang perempuan tidak mudah untuk terpesona dengan seorang laki-laki. Begitu pula diriku. Namun, entah bagaimana, kali ini aku tak kuasa menahan pesona dirinya. Hatiku terjatuh dengan kerasnya. Jatuh dalam pusaran arus asmara. Aku jatuh cinta.

Bagaimana tidak jatuh cinta, gerak-gerik tubuhnya begitu teratur. Saat ia menolong dua orang laki-laki buta dan saat ia menyimpan sampah sisa pembungkus makanannya ke dalam tas. Lalu, saat ia membelikan nasi bungkus kepada dua orang pengemis cilik. Tingkahnya seolah terskenario dengan baik. Gerak geriknya penuh Keanggunan seorang lelaki. Kegagahan yang sangat indah dan memesona.

Tak kuat rasanya hatiku dengan getar-getar asmara ini. Sangat wajar jika aku terpesona dengan tingkah lakunya yang langka itu.

Gerak langkahnya bak tentara sedang menuju medan laga. Gagah nian. Dialah mas gagah yang selama ini kucari-cari. Dialah pangeran berkuda putih yang selalu kutunggu jemputannya. Dialah.. Dialah..

Tidak mudah menemukan seseorang sememesona seperti dirinya. Tak mudah menemukan laki-laki segagah dirinya. Lelaki hebat penuh daya pikat yang luar biasa.

Aduhai betapa indahnya pemandangan senja ini. Aku melihat dirinya sedang khusuk membaca buku di perpustakaan kampus. Kedipan matanya saat meniti titian kata demi kata begitu aduhai. Teratur nian. Nampaknya, matanya mengikuti alur skenario.

Malu rasanya jika ada orang yang menangkap kerling mataku yang sedang menatap dirinya. Aku berharap tidak seorang pun yang menangkap kerling mataku ini.

Aku pun beranjak mendekati dirinya. Semerbak kesturi tercium oleh hidungku. Inilah aroma tubuhnya. Aku tahu, tentu saja. Sesekali ia nampak bercengkrama dengan sahabat-sahabat kampusnya. Saat ia tersenyum, aku pun ikut tersenyum. Saat ia tertawa, aku pun ikut tertawa. Hmhm…

Dan saat adzan maghrib berkumandang, ia pun beranjak menuju mesjid kampus sambil meletakkan kembali buku yang dibacanya dengan amat rapi.

Dan kuikuti dirinya. Selalu. Selalu kuikuti tanpa lelah. Aku benar-benar terpagut asmara. Aku benar-benar mabuk bara cinta. Aku benar-benar terpesona. Sangat terpesona.

Para makmun lelaki sepakat mengangkatnya sebagai imam. Dan mengalunlah alunan syahdu ayat-ayat ilahi bernada Syeikh Mushari Rashid. Indah nian. Terdengar rintih isaknya. Aku pun tak kuasa menahan haru. Aku terguguk syahdu atas indahnya hidup ini. Syukurku pada-Mu Ya Rohmaan.

Ba’da sholat ia mengirimiku sebuah sms jika ia menungguku. Ah, tentu saja ia menungguku. Seulas senyuman terindah yang pernah kulihat terukir manis di wajahnya. Kucium punggung tangannya. Ia memelukku dengan lembutnya. Aroma tubuhnya seketika membiusku.

“Ayo sayang, kita pulang.” Ujarnya mesra. Alhamdulillah. Indah nian hidup ini. Terima kasih Ya Alloh atas karunia-Mu ini. Sekali lagi aku berucap syukur.

Iya. Dia adalah suamiku tersayang. Suami yang kulayani sepenuh jiwaku sepenuh hatiku. Lelaki terhebat yang pernah kutemui. Lelaki idamanku. Suamiku teladanku. Laki-laki idolaku. Entah dengan kamu…

Aku menemukannya sebulan yang lalu. Hmhm.. Kami adalah pengantin baru. Maaf aku ingin tertawa sejenak. Baiklah akan kuceritakan bagaimana aku bisa menikah dengan mas gagahku ini.

–**–

Walaupun kuliahku masih semester 5 saat ini dan usiaku yang masih dua puluh tahun. Tak mengurangi keputusanku untuk segera menikah. Terlalu banyak alasan kenapa aku memutuskan untuk menikah muda. Problem anak muda jaman sekarang yang cenderung ingin hidup serba bebas,  termasuk free sex. Membuatku semakin bersemangat untuk segera membuat biodata ta’aruf dan menyerahkannya kepada murobbiyahku, Ummu Syahid.

Iya. Aku mempercayakan “nasib” jodohku kepada Ummu Syahid. Aku percaya kepadanya. Aku yakin, seorang murobbiyah pasti akan “memilihkan” pasangan yang terbaik bagi mutarobbiyahnya. Bismillah…

Tidak ada istilah pacaran ataupun istilah “saling menunggu” dalam kamusku. “Aku akan menikahimu nanti. Tunggu aku ya.” Begitulah ucapan para aktivis dakwah kampus yang terbuai asmara. Tentu saja hakikatnya sama saja dengan pacaran. Prinsipku adalah hanya ingin “pacaran” setelah menikah. Titik.

Seminggu setelah penyerahan biodata ta’arufku. Ummu Syahid ingin berbicara empat mata denganku ba’da halaqoh. Hatiku pun langsung berdebar dan berdesir kencang. Sepertinya berkaitan dengan biodata ta’arufku.

Dan benar saja, Ummu Syahid mengatakan jika ada seorang ikhwan yang ingin berta’aruf denganku. Beliau pun memintaku untuk membaca biodata sang ikhwan dan beristikharah mengharap petunjuk Allah.

Sesampainya di rumah, aku pun mendiskusikannya dengan keluargaku, terutama dengam mamaku. Ayahku sendiri sebenarnya tidak menyetujuik untuk menikah sebelum aku lulus kuliah. Melalui bujukan mamakulah akhirnya luluh juga hati ayahku.

“Bismillah saja, nak. Jika memang dia jodoh terbaik pilihan Alloh. Semua akan indah pada waktunya.” Begitulah epilog mamaku. Kupeluk tubuh ringkihnya berharap semuanya indah penuh keberkahan.

Mesjid Syarifah Izzah suatu senja menjadi saksi kisah cinta dua insan. Semoga semuanya indah pada waktunya.

Dari biodatanya yang kubaca, lelaki ini lebih tua sembilan tahun dengan usiaku. Walaupun wajahnya nampak jauh lebih muda dan fresh. Dengan bentuk tubuh sedang, tidak gemuk tidak pula kurus. Namun, yang menarik adalah wajahnya. Wajahnya tak henti-hentinya mengukir senyuman. Hmhm.. Itulah sekilas penilaian pertamaku saat melihatnya datang ke mesjid.

Ummu syahid dan suaminya Abu Syahid, mendampingi kami berdua. Aku dan Ummu Syahid di balik tirai akhwat. Dan Abu Syahid mendampingi lelaki gagah itu.

Setelah Abu Syahid berprolog membuka prosesi suci ini. Beliau meminta kami untuk saling bertanya jika memang masih ada yang belum jelas dari biodata kami. Aku sendiri pun bertanya banyak hal terutama tentang pekerjaannya dan visi misinya tentang dakwah. Dan ia pun balik bertanya dan kujawab dengan sebenarnya tanpa sedikitpun yang kututupi.

Tiba-tiba lelaki itu membuka tirai akhwat yang membatasi kami berdua. Tentu saja aku kaget setengah mati. Ternyata saatnya “nadhor”, memang lamat-lamat aku mendengar Abu Syahid mempersilahkannya untuk melihat diriku. Mungkin saking tegangnya ucapan beliau tak kudengar jelas.

Kutundukkan wajahku semakin dalam. Wajahku memerah saking jengahnya. Setelah itu aku seolah tak ingat apa-apa lagi. Aku sangat gugup sekali. Sekilas terlihat ia kembali ke tempat semula. Alhamdulillah lega nian hatiku. Kami pun dipersilahkan untuk istikharah kembali, terutama dirinya. Nasib seorang akhwat yang “dipilih” hanya menunggu dalam doa semoga terpilih.

Sebuah epilog indah Abu Syahid mengakhiri prosesi suci ini,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Surat Ar-Room : 21 )

Saat aku hendak mengambil wudhu karena adzan maghrib sebentar lagi berkumandang. Aku berpapasan dengannya tanpa bisa dicegah lagi. Spontan mata kami bertautan, segera kutundukkan wajahku. Namun, sekilas kulihat ukiran senyuman di wajahnya.

Sensasi rasa berdesir indah memagut hatiku. Sepertinya aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada tautan pertama mata kami. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan. Cinta. Inikah sensasi rasa jatuh cinta itu? Oh.. Jatuh cinta sejuta rasanya.

Tiga hari berselang, ia dan Abu syahid berikut perwakilan keluarganya secara resmi meminangku. Tentu saja diawali tausyiah Abu Syahid yang memang sangat mahir dalam urusan comblang mencomblang.

Pinangannya diterima dengan penuh suka cita. Sekaligus menetapkan hari pernikahan kami berdua.

Hari bahagia pun tiba. Resepsi yang sederhana namun membuat semua orang larut dalam kebahagiaan kami berdua.

Kutatap paras tampan mas gagahku ini. Nampak senyumannya tak pernah hilang dari parasnya. Sebuah senyuman mesra plus pelukan lembut membuaiku saat ia melihat tatapan cintaku. Aku pun semakin merapatkan tubuhku kepadanya. Sensasi cinta yang luar biasa. Inilah semurni dan sehalalnya cinta dua insan manusia. Semua akan indah pada waktunya.

–**–

“Sayang, sudah jam 3.00 tepat. Ayo tahajjud, sayang.” Aku menggeliat manja saat ia membangunkanku sambil membelai kepalaku.

“Gendong.” Ujarku manja. Dan benar saja ia pun menggendongku menuju kamar mandi. Rasanya tak tega membiarkannya menggendong tubuhku yang mulai subur. Tak ada komentar apapun dari bibirnya hanya senyuman tulusnya yang terukir manis.

Indahnya berqiyamullail bersamanya. Kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Terima kasih Ya Alloh atas nikmat indah ini. Inilah kesungguhan cintaku. Ketika cinta berbuah keberkahan. Semua akan indah pada waktunya. Alhamdulillah…

Advertisements

3 thoughts on “Kesungguhan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s