Bener Tapi Kurang Pener

Bismillah,

Sore itu, teman saya langsung berdiri di shaf paling depan tepat di belakang mihrab imam. Dia bertakbir untuk melaksanakan dua rakaat shalat sunnah qabliyah ashar.

“Orang tahu agama kok gobl*k!” Seru orang di sampingnya, mengomentari teman saya itu.

Kira-kira dari sepenggal cerita diatas, siapakah sebenarnya yang salah atau kurang tepat? Teman saya yang shalat qabliyah ashar di shaf pertama, tepat dibelakang mihrab imam atau orang yang mengata-ngatai gobl*k orang yang mau shalat?

Hmmm.. Secara sekilas pastinya yang salah adalah orang yang mengata-ngatai orang shalat dengan kata-kata kasar. Orang mau shalat kok dibilang gobl*k.

Tapi, sebentar! Kita rewind videonya, kita lihat lagi kronologinya.

Usut punya usut, orang yang mengatai teman saya tadi adalah sang muadzin. Sebenarnya beliau sudah berdiri untuk iqamah. Kebetulan di masjid kami ada jam digital yang bisa menghitung mundur jarak antara adzan dan iqamah. Jeda antara adzan dan iqamah sudah diset 7 menit, jadi siapa saja yang ingin shalat qabliyah, bisa memanfaatkan waktu itu.

Teman saya tanpa melihat jam itu, langsung saja shalat qabliyah. Padahal waktu mundur iqamah sudah tinggal 5 detik lagi. Shalatnya tepat di belakang mihrab, sudah githu dia lempeng saja melanjutkan shalat sunnahnya. artinya, mau tidak mau iqamah harus menunggu selesai shalat teman saya tadi.

Nah, kira-kira siapa yang kurang tepat?

Iya, itulah namanya bener tapi kurang pener. Pener itu asli bahasa daerah Amerika Selatan, tepatnya Suriname, artinya pas, tepat, klop. Shalat sunnah qabliyah tentu bagus, tapi jika waktu dan tempatnya kurang tepat tentu menjadi tidak baik.

Mungkin ada contoh-contoh lain yang menurut saya juga kurang pener, meskipun bener. Misalnya:

Tadarus Ramadhan

Namanya baca al-Qur’an tentu tak ada yang mengatakan itu tidak baik. Tapi lain ceritanya jika bacanya malam bulan Ramadhan, dengan memakai speaker masjid yang level suaranya tinggi, sudah jam 23.00 malam masih saja lanjut. Parahnya, makhraj dan tajwidnya kacau.

Baca al-Qur’annya benar, tapi waktu dan caranya yang kurang pas. Seharusnya sudah waktunya istirahat malam, untuk nanti bangun sahur. Kalaupun mau baca al-Qur’an, ya tidak usah memakai speaker masjid.

Murattal Menjelang Sahur

Hal yang kurang tepat lagi menurut saya adalah menyetel kaset murattal di masjid menjelang sahur. Kembali lagi, tidak ada yang salah dengan membaca al-Qur’an atau menyetel kaset bacaan al-Qur’an. Tetapi jika nyetel murattalnya dengan speaker masjid level suara tinggi, padahal jam masih menunjukkan pukul 03.00 pagi, nah itulah masalahnya.

Konyolnya, tak jarang takmir masjidnya malah tidur lagi setelah menyetel kaset murattal.

Harusnya di jam itu, orang masih sangat nikmat bercengkrama dengan Allah melalui shalat malam, bermunajat dan berdo’a, tetapi keasyikan munajat itu buyar karena suara speaker masjid.

Dzikir Speaker

Contoh lainnya mungkin dzikir selepas shalat dengan speaker suara kencang. Padahal jam’ahnya hanya segelintir orang saja.

Nabi Menegur Muadz

Suatu ketika, Muadz bin Jabal menjadi imam shalat Isya’ bersama kaumnya. Kebetulan Muadz bin Jabal membaca surat yang cukup panjang, akhirnya ada salah seorang jamaah yang memisahkan diri untuk shalat sendiri.

“Dia itu munafiq”, kata Muadz ketika diceritakan kepadanya tentang seorang jamaah yang memisahkan diri tadi.

Tak terima atas perkataan Muadz, seorang jamaah tadi akhirnya lapor kepada Nabi Muhammad.

“Apakah engkau mau menjadi fattan/ orang yang banyak memberi fitnah wahai muadz?” Sabda Nabi kepada Muadz bin Jabal.

“Jika kamu shalat menjadi imam, bacalah surat wassyamsi, sabbihisma rabbikal a’la, iqra’ bismirabbika dan wallaili idza yaghsya”

Shalat dengan bacaan yang panjang, itu bagus. Tapi lain ceritanya jika sedang menjadi imam.

Begitu juga dalam menjalankan agama, selain dituntut agar bener-bener benar, juga diharuskan pener alias bisa menempatkan pada waktu dan tempat yang pas. waallahu a’lam

Hanif Luthfi, Lc

Advertisements

3 thoughts on “Bener Tapi Kurang Pener

      1. Wa iyyaka..

        Kalau orang yg belum tahu ini hadits mungkin bisa dimaafkan. Nah, tinggal yg sdh tahu hrs ngasih tahu ke yg blm tahu.. Kalau udh tahu masih melanggar itu baru tidak tahu diri, hhe..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s