Menjadi Ibu dengan Tidak Melahirkan Normal

Bismillah..

Semua perempuan hamil hampir dipastikan ingin melahirkan secara normal. Selain karena proses pemulihannya lebih cepat, biaya lebih hemat, konon katanya melahirkan secara normal adalah gentle birth. tapi tapi tapi.. kalau nggak bisa melahirkan secara normal gimana?  apakah salah si bumil? apakah perlu dibilang belum merasakan menjadi ibu seutuhnya? kalau menurutku sih TIDAK! tidak ada yang salah dengan tidak melahirkan secara normal.

Flashback sedikit pengalaman lahiran anak pertama.. Waktu itu hari sabtu tanggal 30 November 2013, usia kehamilanku memasuki 39-40weeks. Hari itu niatnya masih kontrol rutin aja ke dr. Dewi di HGA karena aku belum merasa mules ataupun ngeflek. Setelah di usg ternyata plasentaku sudah mulai pekapuran dan air ketubanku juga jumlahnya sudah di bawah 10 (normalnya 10-15 kalo ga salah). Dari hasil usg juga terlihat adanya lilitan leher dan kepala si kakak variasi besar. Dari hasil pemeriksaan dalam ternyata sudah pembukaan 3, dokter pun menawarkan gimana kalau malam itu diinduksi? Dengan berbagai pertimbangan aku sama suami setuju tapi izin pulang dulu karena belum membawa persiapan apa-apa.

Salah satu pertimbangan kami setuju untuk induksi, takutnya organ pencernaan si kakak yang sudah sempurna memungkinkan dia BAB di dalam kandungan dan takut jadi keracunan mekoniumnya sendiri, biasanya ditandai ketuban warnanya jadi hijau atau kayak lumpur. Beberapa kali pas profesi di RS aku nmelihat hal demikian. Sebelum pulang aku diminta rekam jantung janin dulu (CTG) alhamdulillah hasilnya normal. Jam 22.00 aku sudah balik lagi ke HGA langsung masuk ruang bersalin. Induksi pertama dimulai sekitar jam 11.00, aku dikasih obat via vagina yg tujuannya untuk melunakan rahim. Malam itu aku masih bisa tidur normal dan nggak merasa mules yang berarti.

Paginya saat ingin sholat subuh, aku melihat flek yang lumayan banyak di celana dalem. Jam 05.00  obat yg kedua diberikan. Setelah menunggu suami sholat subuh, aku masih bisa jalan-jalan mengelilingi HGA, beli sarapan, dll. Sekitar jam 12.30 aku merasa ada yang meledak di perut dan pakaianku jadi basah semua. Ternyata ketubannya pecah. Bidanpun lalu memasang infus, induksinya dilanjut via infus dan tidak boleh turun dari tempat tidur karena akan meningkatkan risiko infeksi. Setelah itu prosesnya cepat sampai jam 15.00 akhirnya dokter mulai memimpin persalinan.

Aku sudah berusaha mengikuti instruksi dokter untuk mengejan saat kontraksi dan nafas biasa saat kontraksi hilang. Tapi setelah ditunggu sampai hampir jam 17.00 si kakak belum lahir juga. Semakin kepalanya turun, denyut jantung janin (DJJ) semakin cepat. 160 ke 180 ke 200 (normalnya 120-160x/m). Aku juga posisi udah lemes banget. Akhirnya dokter menawarkan untuk divakum atau dilahirkan lewat atas (sectio caesaria /SC). Akhirnya dengan beberapa pertimbangan kami memilih untuk SC.

Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal 01 Desember 2013 jam 17.45 anak pertama kami lahir.

Kalau ada yang bilang ngelahirin SC mah enak, tidak ada perjuangannya jadi belum merasakan menjadi ibu yang seutuhnya. Yak ampun OMG helooow itu salah banget! Saat masuk ruang operasi, kita yang lagi hamil gede harus duduk melengkung untuk dimasukin anastesi spinal. Belum lagi dimasukin selang kencing, dan ngerasain mual yg amat sangat akibat efek obat anastesi. Mualnya baru bisa ilang setelah dikasih obat tambahan. Setelah SC pun kita harus bedrest 24 jam, disuntik obat mual dan vit c yg perih banget ngelewatin pembuluh darah. Setelah itu pun kita harus bersabar untuk proses pemulihan luka yang lamanya bervariasi pada setiap orang.

Kalau ada yang bilang juga itu salah ibunya, pas hamil kurang gerak. Idiiih sok tau banget! Waktu hamil anak pertama, aku posisi masih profesi semester 2. Masih harus bolak balik ke tempat praktik dan kampus. Terus setelah lulus profesi sibuk daftar CPNS. Setelah nikah kan tinggal di depok, tapi KTP masih jakarta jadi harus bolak balik ke jakarta membuat surat kuning lah, mengantri buat SKCK di polres Jatinegara yang panjang antriannya itu 2 lantai, ikut tes toefl di LIA pegadengan, mengantri buat surat keterangan sehat, mengambil kartu ujian, dll. Saat hamil 36-37weeks pun ikut tes CPNS di Gelora Bung Karno, dari jam 07.00-12.30 harus panas-panasan dan duduk manis mengerjakan soal segambreng. Nggak kebayang pegelnya kayak apa. Memperbanyak sujud dan tidur dengan posisi miring kiri pun sudah dikerjakan.

Di sini aku bukannya ingin mengeluh atau gimana, tapi marilah kita saling menghargai dan menjaga perasaan. Jangan sampai dari lisan kita terucap kata-kata yang menyinggung atau merendahkan orang lain. Tidak perlulah mencari mana yang lebih baik. Lebih baik untuk kita, belum tentu lebih baik untuk orang lain. Kalau menurutku selain punya waktu kapan anak harus lahir, anak juga punya cara sendiri bagaimana harus lahir.

Wallahualam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s