Puasa Arafah: Tergantung Waktu Setempat atau Wukuf di Arafah?

Bismillah,

Ini sebagai suatu perbandingan agar kita bisa saling menghargai sahabat muslim yang berpendapat lain.

Apakah waktu ‘Idul Adha itu diketahui dengan terlihatnya hilal di negeri masing-masing atau tergantung pada saat wuqufnya jama’ah haji di Arafah?

Ada 7 argumentasi yang dipakai sebagian muslim yang menganggap puasa Arafah tergantung dari waktu, bukan wukuf di Arafah.

[1]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya Nabi tidak menjadikan wukuf di Arafah sebagai patokan ketika beliau dan para sahabatnya puasa Arafah pada tahun ke 2 H, 3 H dst. Tetapi beliau dan para sahabatnya hanya menentukan puasa Arafah dengan ru’yah hilal penduduk Madinah.

Puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah itu telah disyari’atkan jauh sebelum Rasulullah melaksanakan ibadah haji. Puasa Arafah tanggal 9 dzulhijjah sudah disyari’atkan sejak awal beliau berhijrah ke Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menamakan puasa 9 dzulhijjah dengan puasa Arafah meskipun kaum muslimin belum melaksanakan ibadah haji dan ibadah haji baru beliau kerjakan di tahun ke 10 H.

Pada tahun ke 2 H, ke 3 H, ke 4 H dan ke 5 H Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah melaksanakan puasa tanggal 9 dzulhijjah tanpa ada seorang pun yang melaksanakan wukuf di Arafah. Saat disyari’atkan, puasa Arafah tidak dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah (lihat Zaadul Ma’aad II/101 oleh Imam Ibnu Qayyim, Fathul Baari III/442 oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dan Subulus Salam I/60 oleh Imam ash-Shon’ani).

Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

“Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah, hari ‘Asyuraa’ dan 3 hari setiap bulan yaitu hari senin pada awal bulan dan 2 hari kamis” (HR.Abu Dawud no.2437, Ahmad no.2269, an-Nasaa’i no.2372 dan al-Baihaqi IV/284, lihat Shahiih Sunan Abi Dawud).

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa beliau berpuasa pada tanggal 9 dzulhijjah (untuk puasa Arafah) dan itu dilakukan sebelum beliau haji wada’ tahun 10 H. Dan lafazh itu menunjukkan rutinitas sebuah amalan.

[2]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya tidak ada satu pun riwayat bahwasanya beliau ketika di Madinah bersungguh-sungguh untuk mencari tahu kapan waktu wuquf jama’ah haji di Arafah.

Jadi, Nabi berpuasa Arafah di Madinah selama bertahun-tahun tanpa mengacu kepada ada atau tidak adanya wuquf di Arafah.

Jika di Madinah sudah masuk tanggal 9 dzulhijjah menurut hitungan mereka, maka beliau bersama para sahabat berpuasa Arafah dan tidak memakai ru’yah hilal penduduk Mekkah.

[3]. Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya Nabi bersabda kepada kaum muslimin untuk menentukan hilal (awal bulan) dzulhijjah dengan ru’yah sebagaimana kita juga melakukan ru’yah ketika akan menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila kamu telah melihat hilal (yaitu awal bulan) dzulhijjah dan salah seorang diantara kamu hendak berkurban, maka jangan sekali-kali kamu memotong rambutnya dan jangan pula memotong kukunya sampai hewan kurban itu disembelih” (HR.Muslim no.1977 (41 & 42), hadits dari Ummu Salamah).

Nampak dengan jelas pada hadits ini bahwa ‘Idul Adha dikaitkan dengan terbitnya hilal, sedangkan waktu terbitnya hilal di setiap negeri berbeda dengan negeri lainnya (sebagaimana yang kita pahami ketika menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal).

Dengan demikian, ‘Idul Adha dikaitkan dengan waktu (awal hilal) dan bukan dengan aktifitas jamaah haji di Arafah.
.
Dengan demikian, maka puasa Arafah juga dikaitkan dengan waktu (awal hilal) dan bukan dengan aktifitas jamaah Haji di Arafah.

(4). Puasa Arafah itu terkait dengan “waktu saja” dan tidak terkait dengan “tempat”. Buktinya jika seandainya terjadi bencana atau peperangan sehingga jamaah haji tidak bisa wukuf di Arafah pada tahun itu, bukankah puasa Arafah tetap bisa dilakukan meskipun jamaah haji tidak ada yang wukuf di  Arafah ? Kenapa ? Karena patokan puasa Arafah itu bukan wukufnya jamaah haji tapi tanggal 9 dzulhijjah.

(5). Ke 4 alasan tadi dan alasan lainnya adalah pendapat dari seluruh ulama dari zaman ke zaman selama ratusan tahun.

(6). Tetapi setelah adanya teknologi informasi beberapa tahun belakangan maka mulailah muncul pendapat yang berkata kita harus mengikuti puasa Arafah dengan berpatokan kepada jama’ah haji yang sedang wukuf di   Arafah.

(7). Para ulama berkata bahwa pendapat ini tidak kuat karena menyelisihi alasan-alasan diatas, sehingga mereka tetap dengan pendapat semula meskipun sudah ketahuan kapan wukuf di Arafah.

KESIMPULAN :

Dari semua penjelasan diatas maka diambil kesimpulan bahwa berpuasa Arafah (yaitu tanggal 9 dzulhijjah) dan berhari raya ‘Idul Adha dengan mengacu kepada terlihatnya hilal (awal bulan) di negara masing-masing.

Dan ini juga merupakan pendapat dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolaani, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh DR. ‘Abdullah bin Jibrin, Syaikh DR.Hanii bin Abdullah, Syaikh DR Ahmad al-Haji al-Kurdi, Syaikh DR Khalid al-Musyaiqih, Syaikh DR Khalid al-Muslih, Syaikh DR Anis Thohir al-Indunisy dll.

Dan di Indonesia untuk tahun ini, in syaa Allah puasa Arafah jatuh pada tanggal 23 September dan ‘Idul Adha tanggal 24 September.

Wallahul Muwaffiq

Sumber: broadcast Whatsapp

Advertisements

3 thoughts on “Puasa Arafah: Tergantung Waktu Setempat atau Wukuf di Arafah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s