Ibrahim, Ayah Teladan

Bismillah,

Dalam suasana Idul Qurban kali ini, kita akan coba bahas tokoh keluarga hebat dan utama yg disebut dlm Alquran. Beliau adalah Ibrahim. Ayahanda para nabi.

Kesibukannya dalam bekerja dan dakwah tak mengurangi nilai kepeduliannya terhadap keluarga. Beliau contoh dalam ‘work life balance’. Kesetiaan terhadap istri tak perlu diragukan. Meski belum beroleh keturunan, tak sembarang cari lagi pasangan hingga Allah memerintahkan.

Pilihan menikah lagi dengan siti hajar adalah untuk kebaikan generasi depan. Bukan sekedar pilihan syahwat. Sebab siti sarah tak kunjung beroleh anak. Kerinduan terhadap anak seiring dengan upaya memilih ibu yg tepat baginya. Menikahi siti hajar diniatkan bukan sekedar mencari istri untuknya tapi ibu untuk anaknya.

Hak anak ditunaikan sedari awal. Sejarah membuktikan pilihan terhadap hajar adalah tepat. Pengorbanan dalam bukit safa marwa sebagai teladan. Siti hajar dinikahi untuk siap menjadi pengasuh. Rela berlapar-lapar kesepian demi menjalankan tugas pengasuhan yang nilai dasarnya dicanangkan Ibrahim

Ayah yang hebat bermula dari ketepatan dalam memilih pasangan hidup. Bukan sekedar untuknya, namun juga bagi anak-anaknya nanti. Pun, saat harus berpisah dan meninggalkan anak istri demi tugas. Kelayakan tempat tinggal jadi prioritas demi memudahkan pengasuhan. Beliau lebih memilih negri aman terasing yg jauh dan tandus demi dekat dengan rumah Allah dibandingkan dekat dengan pasar.

Pilihan aneh namun menunjukkan visi seorang ayah. Agar anak lebih cinta dan dekat dengan Allah dibandingkan memuaskan perutnya. Biarlah anakku dicukupkan rezkinya jika ia lebih dekat dengan rumah Tuhannya. Demikian kira-kira visi beliau dalam memilih rumah.

Visi ini bersambung kepada satu cita-cita besar. Yakni mencetak generasi penegak sholat. Sebab dari sholatlah bermula semua kebaikan anak. Bukan sekedar menjalankan sholat, tapi menegakkannya. Dan ini bermula dari kedekatan anak kepada rumah Allah yakni masjid.

Jika urusan ibadah dan aqidah sudah ditegakkan (QS 14 : 35-37), maka tak kalah penting adalah mengajarkan anak bersikap simpatik. Dalam doa beliau berharap keturunannya disukai oleh banyak manusia karena dihiasi akhlak yg indah.

Ayah peduli terhadap urusan sosial anak. Mengajarkan perilaku simpatik dengan cara simpatik. Tak ada bentakan kasar dari beliau kepada anaknya meski dalam urusan ibadah. Saat perintah Allah turun untuk penyembelihan. Meski atas nama Allah, maka beliau tetap penuhi hak anak yaitu : berdialog.

Ismail kecil saat itu merasa nyaman, mendapatkan perintah Allah melalui ayah yang menghargai hak-haknya. Tak memberi doktrin apalagi ancaman. Dimulai dengan mengajak anak bermain, meluncurlah kalimat tentang apa yang dialami sang ayah ‘ayah mimpi menyembelihmu atas titah Allah’. Ia jadi memahami perasaan seorang ayah yang dapat perintah Allah dan tak kuasa menolak. Kasih sayang yang dibatasi oleh aqidah. Makin terpesonalah ismail kecil begitu meluncur kalimat dari sang ayah ‘bagaimana pendapatmu nak atas mimpi ayah?’ (QS. 37 : 102). Kalimat yg menunjukkan bahwa seorang anak punya hak untuk ditanyai pendapatnya tanpa perlu diancam atau diiming-imingi. Sehingga meluncurlah jawaban dari anak yang dihargai haknya oleh sang ayah ‘lakukan perintah Allah yah. Mudah-mudahan aku menjadi orang sabar’. Jawaban yang menunjukkan rasa takut yang berhasil dilawan karena didukung oleh Ayah yg menghargai hak-haknya. Inilah cara tepat memotivasi anak.

Pertemuan yg berkesan antara ayah dan anak meski jarang sekali bersama. Sang ayah memaknai setiap interaksi dengan anak secara berkualitas. Saat tak bersama dengan anak pun tak putus doa disampaikan ke langit. Mengasuh dari jarak jauh dalam kawalan doa pada Sang Kuasa.

Kesibukan tak halangi sang ayah untuk pikirkan generasi tangguh masa depan. Dan tekad dalam doanya Allah kabulkan. Ishaq, Ismail, Yaqub, Yusuf hingga kanjeng nabi Muhammad merupakan keturunan langsung ayah hebat ini. Gelar nabi diwariskan ke anak cucunya bukan semata-mata warisan namun buah dari kesungguhan beliau sebagai ayah yang peduli pengasuhan

Semoga banyak ayah yg bisa mengambil teladan dari sosok Ibrahim : ayah hebat sepanjang zaman. Sekian.

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Sumber: broadcast Whatsapp

Advertisements

One thought on “Ibrahim, Ayah Teladan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s